LA TOFI SCHOOL

Sahabat yang selalu ada

La Tofi School of Social Responsibility kini telah menjadi harapan baru bagi perusahaan yang ingin menjalankan tanggung jawab sosialnya dengan baik dan benar. Termasuk memenuhi pelaporan ESG yang terverifikasi kebenarannya di lapangan. Suatu pekerjaan besar dari pasar modal yang menghendaki transparansi. Sebelum heboh Bursa Efek Indonesia oleh karena MSCI, diam-diam La Tofi School menyiapkan jawaban dengan berbagai sistem koreksi nasional berdasarkan La Tofi ESG Rating yang dilengkapi dengan CEPI.  

La Tofi sebagai pendiri La Tofi School telah lama melihat ketimpangan dari identifikasi risiko dan mitigasi oleh perusahaan. Alarm yang sesungguhnya telah menyala tetapi perusahaan cenderung mengabaikannya. Pemimpin perusahaan nasional tidak perlu bersedih karena masih ada waktu untuk melakukan koreksi, hingga menjadikan perusahaan sebagai pemain global yang bisa eksis dari zaman ke zaman.

Perusahaan nasional tidak perlu menoleh ke belakang, saat infrastruktur keberlanjutan belum tersedia seperti saat ini. Lebih dari 20 tahun lalu, referensi CSR sangatlah minim. La Tofi yang berlatar pekerjaan sebagai wartawan sekaligus praktisi public relations melakukan terobosan penting dengan berbagai kegiatan untuk menjembatani pemahaman yang benar akan CSR dengan mendekatkan perusahaan kepada masyarakat maupun pemerintah.

Sadar akan latar belakang pendidikannya sebagai pekerja sosial profesional, La Tofi pun mendirikan La Tofi School of CSR yang kini bernama La Tofi School of Social Responsibility. Di tahun pertama kehadiran La Tofi School, ia membuat acara Journalist Conference on CSR, sebagai langkah strategis untuk mencegah salah paham publik terhadap CSR yang cenderung sebagai uang masyarakat yang diminta kepada perusahaan. Berbagai seminar yang melibatkan pemangku kepentingan digelar di berbagai komunitas maupaun daerah. Sehingga pada akhirnya La Tofi menemukan cara cerdas meningkatkan pemahaman para pihak akan CSR dengan membuat penghargaan nasional lingkungan hidup dengan nama Indonesia Green Awards dan Nusantara CSR Awards sebagai penghargaan nasional dengan konsep CSR yang lebih luas. Keduanya dimulai tahun 2009. Apapun inisiatif perusahaan dan pemangku kepentingan lain dalam tanggung jawab sosialnya selalu dinilai positif untuk mendapatkan penghargaan. Namun, dari situlah La Tofi menyampaikan konsep-konsep tanggung jawab sosial yang berdimensi Indonesia tanpa kehilangan struktur dasarnya sebagai tanggung jawab mengatasi risiko operasional agar bumi dan manusia tidak kehilangan daya dukungnya.

Bersamaan dengan kelahiran penghargaan-penghargaan itu, La Tofi menerbitkan majalah bulanan berformat buku dengan nama Bisnis & CSR. Majalah buku ini sangat populer menjadikan La Tofi School sebagai satu-satunya rujukan. La Tofi kerap memberikan kuliah umum tentang CSR di berbagai perguruan tinggi ternama. La Tofi juga menjadi Ketua Umum pertama Forum Nasional CSR yang didirikan berdasarkan surat keputusan Menteri Sosial pada tahun 2012, yang membuatnya hadir di hampir seluruh provinsi di Indonesia untuk memberikan ceramah CSR sekaligus melantik kepengurusan provinsi.

Dari interaksi yang intens dengan perusahaan-perusahaan yang beroperasi di daerah, La Tofi mendapatkan gambaran nyata betapa pemahaman para pihak perlu diluruskan. Karena itu, ia menulis buku yang judulnya mengejutkan. Bagaimana mungkin seorang yang membangun arsitektur tanggung jawab sosial di Indonesia memberi judul KILL CSR? Alasannya sederhana, baca bukunya, Anda akan menemukan 7 terobosan agar tanggung jawab sosial menjadi darah daging bagi perusahaan.

Kondisi nyata saat itu, dengan menyebut CSR, siapapun bisa merampok perusahaan tanpa rasa malu. Guru CSR ini hobi berbagi ilmu. Siapapun boleh datang ke kantornya di Tebet Jakarta untuk berbagi cerita tentang CSR. Dari sinilah katanya, ia belajar banyak untuk melahirkan karya-karya yang sesuai tuntutan zaman.

Di era digital yang penuh disrupsi, perusahaan perlu tetap kokoh menjalankan tanggung jawab sosialnya. Oleh karena itu, didukung oleh tim yang solid La Tofi menciptakan Metodologi La Tofi ESG Rating. Agar semuanya terukur sejak mengidentifikasi risiko hingga memastikan kesesuaian aksi mitigasinya. Metodologi yang diluncurkan secara internasional pada perhelatan Asian Impact Awards 2025 di Malaysia, mulanya bersandar pada 4 pilar: LRMI (Local Risk Materiality Index) – RSAI (Risk–Strategy Alignment Index) – AMS (Action Mitigation Score) – FVS (Field Verification Score), pun dilengkapi dengan CEPI (Corporate Economic Protection Index) agar mendapatkan perhitungan keuangan yang bisa diselamatkan akibat aksi mitigasi.

Bagi La Tofi, perusahaan tidak boleh berhenti pada angka-angka yang melenakan. Faktor kemanusiaan juga harus menjadi indikator penting di dalam mitigasi risiko. Selain pilar-pilar dalam La Tofi ESG Rating, La Tofi menambahkan lagi dengan pelatihan kesiapsiagaan kemanusiaan bagi karyawan dengan nama HWR (Humanitarian Workforce Readiness) dan HCR (Human Communication Readiness). Ini semua beriringan dengan sistem koreksi yang dilahirkan oleh La Tofi School untuk menjawab tantangan baru di berbagai sektor industri dengan nama PRANATA Tambang, PRANATA Sawit, PRANATA Energi & Ketenagalistrikan, PRANATA Keuangan, PROPER Bank Sampah untuk kategori perusahaan yang menjalankan EPR dan PRANATA Komunikasi untuk semua lini humas perusahaan dan lembaga.

La Tofi berharap ekosistem penilaian dan koreksi ini bisa menjadikan La Tofi School of Social Responsibility sebagai institusi yang ikut menavigasi perubahan di Indonesia.

Scroll to Top