Sebuah Lompatan Raksasa dalam Penghargaan atas CSR di Indonesia

Sambutan pada CECT CSR Awards 2015

Jalal, Chairperson of Advisory Board Social Investment Indonesia

Dalam beberapa kesempatan, penulis pernah menyatakan kekecewaan atas apa yang terjadi dengan penghargaan atas CSR di negeri ini.  CSR yang sudah cukup lama didengungkan—setidaknya sejak akhir 1990an—tak banyak mengalami kemajuan dari sisi penilaian kinerja.  Sejak pertama kali penghargaan atas CSR kita dengar hingga sekarang, seluruhnya hanya berkutat pada pemberian penghargaan atas projek-projek CSR belaka, namun perusahaan yang memenangkan penghargaan atas itu kemudian mengklaim atau diklaim memiliki kinerja CSR yang bagus.  Lalu, apa masalahnya? 

Praktik CSR—menurut Carol Sandford—memang terdiri dari tiga tingkatan, yaitu responsibility projects, responsibility programs, dan responsible business. Kebanyakan perusahaan melalui jalur itu ketika belajar mempraktikkan CSR.  Tentu, perusahaan-perusahaan yang baru belajar akan cenderung berada pada tahapan awal atau mengerjakan projek-projek CSR belaka.  Setelah beberapa tahun, mereka akan sadar bahwa projek-projek yang berserak tidaklah akan membawa banyak manfaat—atau mengurangi mudarat—bagi perusahaan maupun pemangku kepentingannya.  Maka, mereka mulai menyusun projek-projek yang berserak itu ke dalam suatu struktur yang lebih jelas.  Projek-projek yang sejenis akan dikumpulkan ke dalam satuan program, sehingga bisa saling menguatkan, dan kinerjapun tergerek naik.
 
Namun, sesungguhnya perusahaan belum benar-benar bisa dianggap bertanggung jawab sosial sebelum sampai pada anak tangga responsible business.  Pada anak tangga ini, seluruh keptusan dan aktivitas bisnis benar-benar dibuat dan dikerjakan dengan mempertimbangkan dampak pada seluruh pemangku kepentingan.  Dampak yang negatif diminimumkan sedapat mungkin hingga habis, lalu kemudian direhabilitasi dan/atau dikompensasi.  Dampak yang positif dimaksimumkan.  Pada anak tangga ini, seluruh pemangku kepentingan menjadi puas terhadap kinerja perusahaan, dan reward atas kinerja CSR mulai tampak jelas.  Apa yang dinyatakan oleh Jeb Emerson sebagai blended value, di mana kinerja CSR (social return on investment) dan kinerja finansial (financial return on investment)  cenderung meningkat secara bersama-sama juga terjadi pada anak tangga ini.
 
Oleh karena itu, kalau kita saksikan bahwa dalam dua dekade terakhir berbagai penghargaan atas CSR masih berkutat di anak tangga pertama, responsibility projects, tampaknya saatnya kita nyatakan cukup sudah!  Kalau terus-menerus kita tak mendorong perusahaan-perusahaan untuk melihat kinerja CSR secara menyeluruh, di anak tangga responsible business, kita tak membantu perkembangan CSR sama sekali.  Kita semua mungkin tidak menjadi denier atau pendusta CSR dengan terus berkutat di anak tangga projek, tapi jelas kita menjadi delayer atau penunda (kemajuan) CSR di Indonesia. Dan, hal ini sama sekali tidak bijak, karena tantangan pembangunan di Indonesia semakin besar dan kompleks.  Kita sudah seharusnya menjadikan CSR sebagai alat yang efektif bahkan ampuh untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.  Tentu, hanya dengan mendorong CSR pada tingkat responsible business saja hal ini mungkin dilakukan.
 
Hari ini yang akan kita saksikan bersama-sama adalah sebuah lompatan besar.  CSR tak lagi dinilai dari projek-projek skala kecil, melainkan dari keseluruhan aspek: tata kelola, ekonomi, sosial dan lingkungan.  Memang demikianlah seharusnya perusahaan dinilai tanggung jawab sosialnya dalam tataran konseptual.  Dalam tataran praktis memang pengelolaannya dilakukan oleh pihak yang berbeda-beda di dalam perusahaan, namun secara konseptual keseluruhan hal tersebutlah yang membentuk kinerja CSR secara utuh.  Dengan demikian, hanya dengan melihat overall performance—sebagaimana yang kita saksikan hari ini—kita akan tahu perusahaan mana saja yang bisa dianggap bersungguh-sungguh dengan tanggung jawab sosialnya.  Hal ini, dalam keyakinan penulis, akan mendorong perusahaan-perusahaan untuk mengelola keempat aspek di atas secara komprehensif, terutama dalam isu-isu yang material terkait dengan bisnis inti dan pemangku kepentingannya.  Ini adalah dampak positif pertama dari penghargaan ini.
 
Dampak positif yang kedua akan datang dari dorongan terhadap transparensi atas kinerja perusahaan.  Mengapa? Karena data yang dipergunakan untuk menilai kinerja perusahaan di sini datang dari publicly available data.  Perusahaan-perusahaan sesungguhnya sudah didorong oleh banyak inisiatif untuk mempublikasikan beragam aspek yang dikelolanya, termasuk dan terutama data terkait dengan kinerjanya.  Misalnya saja melalui laporan tahunan dan laporan keberlanjutan.  Namun, kebanyakan perusahaan tidak melihat apa keuntungan dan kerugian dari publikasi tersebut.  Kebanyakan masih berkutat pada pemenuhan kewajiban belaka. Dengan dimanfaatkannya data tersebut dalam penghargaan seperti CECT CSR Awards, maka perusahaan tahu bahwa publikasi itu akan ditransformasikan menjadi reputasi—bukan sekadar citra—perusahaan.  Dan, kita semua tahu apa manfaat dari reputasi itu.
 
Ketiga, jelas kita bisa membuat perbandingan di antara seluruh perusahaan yang ada, dan di antara perusahaan-perusahaan yang ada dalam satu kategori industri.  Kini kita akan tahu bagaimana posisi relatif perusahaan tertentu terhadap keseluruhan; juga, terhadap perusahaan-perusahaan kompetitornya.  Ini jelas akan berpotensi mendorong race to the top.  Perusahaan-perusahaan akan berlomba menjadi yang berkinerja CSR terbaik, lantaran kinerja yang baik—melalui perantaraan reputasi—memang bisa mendatangkan manfaat operasional dan finansial yang jelas.
 
Mendorong perusahaan untuk mencapai aras responsible business, melakukan publikasi yang komprehensif atas proses dan kinerja CSR-nya, dan membandingkan kinerja perusahaan yang satu dengan yang lain adalah dampak positif yang paling jelas, namun mungkin masih ada berbagai keuntungan yang lain.  Setidaknya kita bisa bertempur dalam wacana, apakah akan terus membela perusahaan-perusahaan yang tampak kinclong lantaran projek-projek tertentu padahal kinerja secara keseluruhan tak bisa dibanggakan?   Kita juga bisa berefleksi apakah akan terus membiarkan perusahaan beriklan projek CSR seenaknya, dan terus menyembunyikan kinerjanya yang buruk dalam beragam aspek, atau bahkan dengan sengaja mengiklankan projek CSR untuk menutupi kenyatakan jelek itu.  Kita, tentu juga bisa mengambil keputusan bila harus memilih sebuah perusahaan untuk bekerja atau dibeli produknya. 
 
Tentu, ini bukanlah langkah akhir dalam pemberian penghargaan CSR di Indonesia.  Ini adalah langkah raksasa yang perlu dilanjutkan, dengan terus-menerus memperbaiki metodologi penilaian.  Mungkin indikator-indikatornya perlu lebih dikontekstualisasikan dengan kondisi Indonesia.  Mungkin perlu juga dipertimbangkan untuk menilai perusahaan dalam satu kategori industri dengan indikator khusus—semacam sector disclosure yang dikembangkan GRI.  Mungkin juga kita perlu mengecek kebenaran data yang dipublikasikan oleh perusahaan.  Namun, sebelum kita memikirkan lebih jauh tentang perbaikan-perbaikan yang diperlukan, penulis hendak mengajak semua pihak untuk merayakan kemajuan dalam CSR yang kita saksikan hari ini.  Juga, untuk berterima kasih kepada CECT Universitas Trisakti yang di bawah kepemimpinan Dr. Maria Nindita Radyati telah berhasil mengajak kita semua melongok anak tangga tertinggi dalam CSR.
 
Jakarta, 17 Maret 2015